August 20, 2016 hasna-hanifah

Cita-cita dan Tujuan Masuk Pesantren Ma’rifatussalaam by. Hasna Hanifah

Hasna Hanifah namaku. Menurut ummi, namaku memiliki arti, Hasna artinya wanita yang cantik, dan Hanifah adalah wanita yang lurus. Dengan menyandang nama itu berarti doa dan harapan kedua orangtuaku begitu mulia. Harapannya aku tumbuh menjadi seorang muslimah yang cantik dan menjalani kehidupan dengan lurus. Iya cantik! Tidak hanya secara fisik tapi juga cantik akhlaknya. Juga memiliki kepribadian yang lurus sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Aku ingat betul dari kecil ummi dan abiku setiap namaku dipanggil selalu lengkap, “Hasna Hanifah”. Bahkan tidak berhenti sampai situ, selalu ada panggilan tambahan menyertainya. Yap… “Hasna Hanifah… Shalihah… Mujahidah… Hafidzah…Qur’an…” begitu kudengar setiap kali aku dipanggil ummi dan abiku. Sampai nenek dan kakekku yang tinggal di Bandung pun memanggilku demikian. Saking akrabnya panggilan ummi dan abiku ditelinga mereka.

Entahlah aku merasa “aneh” pada awalnya dipanggil dengan nama yang terlampau panjang. Tapi karena sering aku dengar, lama kelamaan jadi hal yang biasa. Akupun sering menanyakan, “Mengapa ummi dan abi sering melengkapi namaku dengan tambahan seperti shalihah,mujahidah,hafidzah,qur’ani?” dengan penuh keheranan. Ummiku menjawanya dengan mantap, “Suatu saat baik ummi ataupun abinya memiliki do’a dan harapan putri kami menjadi sosok yang muslimah yang tidak hanya cantik, baik, tapi juga shalihah, pejuang juga seorang penghafal Al-Qur’an.

Jawaban atas keheranan dengan panggilanku yang begitu panjang akhirnya menemukan jawaban. Aku bertanya kepada orangtua sudah sangat sering tentang itu. Dan ummi abiku pun menjawabnya sudah untuk yang kesekian kalinya. Tapi baru memahami jawabannya setelah aku duduk di kelas 4 SD. Dengan “panggilan tambahan” itu semakin membuatku ingin menunjukkan sebagai anak berbakti aku harus berjuang membuat nyata harapan dan do’a kedua orangtuaku. Bukankah “Keridhoan Allah bersama dengan keridhoan kedua orangtua?

Seiring waktu berjalan, semakin aku bertambah usia. Akupun mulai paham semua do’a dan harapaku harus menjadi cita-citaku juga. Ini mendorong niat dan kerja kerasku untuk bisa meraih kesempatan bergabung dengan kelas “Takhosus” di sekolahku. Meskipun kelas itu baru digagas dan direalisasikan pada saat aku kelas 6, tapi aku berharap untuk tetap menjadi bagian didalamnya. Bukan hal yang mudah ternyata. Diawal selesi saya aku harus berjuang bersama teman-teman yang lain untuk bisa memiliki bacaan Al-Qur’an yang tartil dengan kaidah tajwid yang baik. Alhamdulillah, dengan izin Allah semua dimudahkan. Sampai aku harus menjalani tahapan seleksi berikutnya. Menghafal 1/2 halaman dari Al-Qur’an yang ditentukan oleh seorang Ustadz dalam waktu 30 menit menjadi proses yang aku jalani berikutnya.

Akhirnya, pada saat pengumuman siswa siswi yang berkesempatan masuk kelas “Takhosus”, namaku dipanggil. Seluruhnya ada kurang lebih 50 orang dari berbagai tingkatan kelas mulai dari kelas 4 sampai kelas 6. Kelas “Takhosus” ini kegiatan belajarnya di masjid. Tepatnya Masjid Nurul Amal yang berjarak kurang lebih 5 meter dari ruang kelasku. Dijam pelajaran selain yang di ujian Nasionalkan, aku masuk masjid di kelas “Takhosus”. Pada saat belajar pelajarang Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA aku masuk ruang kelas 6A. Hampir seharian aku mengikuti kegiatan belajar sekolah. Dan sebagian besar waktu belajarku dihabiskan di masjid. Aku bagian dari siswa yang memakmurkan masjid lhooo… Sungguh menyenangkan. Ternyata, banyak dari teman Takhosusku memiliki prestasi belajar yang baik. Ada yang pernah berprestasi pada lomba bercerita dalam Bahasa Inggris (Story Telling), ada juara kelas, bahkan ada yang sudah memiliki hafalan Al-Qur’an 4 Juz sebelum bergabung dengan kelas Takhosus.

Aku sendiri setelah bergabung dengan kelas Takhosus mendapat banyak manfaat besar. Diantaranya aku lebih memperhatikan tilawah harianku. Sebelumnya sangat sulit bagiku membiasakan diri membaca Al-Qur’an sehari satu juz. Setelah ikut Takhosus, aku memaksakan diri untuk menyelesaikan tilawah satu juz setaip harinya. Pergaulanku pun terjaga karena aku lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an daripada dengan media televisi atau handphone ngetrend dikalangan anak-anak seusiaku.

Selepas menyelesaikan SD aku ingin melanjutkan hafalan Qur’anku, tetapi aku ingin menghafalkan Al-Qur’an dengan lebih fokus. Maka aku memilih melanjutkan ke Pesantren, dengan dukungan orangtuaku aku semakin tertarik walaupun belum sepenuhnya, ketertarikanku untuk masuk ke dunia pesantren malah membuatku bimbang sebagian teman mulai menyaranku jangan masuk pesantren. Saat aku ditanya oleh teman-temanku, “Kenapa kamu memilih pesantren?“, aku masih bingung ingin menjawab apa, sebenarnya aku tahu betul tujuanku untuk belajar ke pesantren, tetapi entah kenapa aku ragu.

Memutuskan ke pesantren itu bukan hal yang mudah. Aku yang tadinya yakin entah kenapa mulai ragu, aku mulai bicara pada Ummi dan Abi, mereka berkata niatmu harus diluruskan terlebih dahulu, dan mintalah petunjuk pada Allah. Aku sering merenung dan berdo’a saat sedang sholat aku menemukan jawabannya. Sekarang aku yakin sepenuhnya aku siap memasuki dunia pesantren.

Sekarang jika aku ditanya oleh teman-temanku “Kenapa kamu memilih pesantren?” aku menjawab dengan lantang, “Itu pilihanku, aku punya banyak harapan disana.” Akhirnya tekadku sudah bulat, aku yakin. Pesantren Al-Qur’an Ma’rifatussalaam namanya, tempat aku nantinya belajar dan mgnhafal Al-Qur’an, tujuan dan rencanaku sekolah disana.

Ingin menumbuhkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an, akrena aku mempunyai cita-cita bisa menjadi penghafal Al-Qur’an dengan niat dan tujuan yang baik dan benar. Ingin meluruskan perilaku, sikap ataupun akhlak. Berbakti kepada orangtua, berkata sopan kepada siapapun, menghormati sesama, sikap saling menghargai, sikap penyabar juga pemaaf.

Menjadi orang yang bermanfaat, menjadi orang yang dapat membahagiakan, orang yang dapat belajar dari pengalaman dan masa lalu, orang yang selalu berikhtiar dalam menggapai suatu tujuan, orang yang amanah, beranggung jawab, jujur, dan berperilaku baik lainnya.

Karena sikap-sikap tersebut belum sepenuhnya berada dalam diriku, memang tidak sempurna sepenuhnya setidaknya dengan bersekolah disini aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Dapat menumbuhkan potensi yang ada dalam diriku.

Rencanaku bisa mencapai target-target belajar disana. Dan rencananya aku ingin membuat buku karena hobiku membaca (aku tidak hanya ingin jadi penonton tetapi juga pemain). Menjadi pribadi yang berakhlak islami, menjadikan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai rujukan hidup. Dan masih banyak lagi cita-cita dan tujuanku.

Mudah-mudahan dengan aku bersekolah di SMP Al-Qur’an Ma’rifatussalaam ini dapat mewujudkan cita-citaku, Amiiiin…

 

Ditulis oleh Hasna Hanifah

Santriwati SMP Al-Qur’an Ma’rifatussalaam

Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.